Pada artikel kali ini saya ingin share pengalaman pribadi penulis sendiri, bagaimana cara punya rumah dan mobil sendiri. Kisah berawal dari 1 tahun sebelum saya menikah, saya sudah membaca di internet, di buku-buku di dai video-video youtube tentang keajaiban mengamalkan shalawat.
Mulai dari sanalah saya istiqamah mengamalkan shalawat sebanyak 1.000 kali dalam sehari semalam. Sampai akhirnya menikah, setelah jalan beberapa bulan usia pernikahan dalam pikiran saya terlintas, saya harus punya rumah untuk keluarga kecil saya agar bisa lebih mandiri. Posisi saya saat itu masih sebagai pegawai honorer begitu juga dengan istri saya.
Kalau di gabungkan gajih kami berdua untuk menabung membeli rumah entah berapa lama baru bisa beli rumah. Gajih kami cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan simpanan sedikit-sedikit.
Hari berganti hari, alhamdulillah saya tetap istiqamah mengamalkan shalawat namun kadang juga bolong, biasa yang bolong saya ganti di hari lain. Shalat dhuha dikerjakan kadang lewat, shalat tahajud kadang di kerjakan kadang lewat, kebanyakannya lewat sih,,,, hehe. Di setiap sujud terakhir shalat tahajud saya selalu minta kepada Allah rumah yang besar juga mewah.
Setiap jumat juga saya biasakan diri sedekah, berapa pun,,,, nominalnya tidak tentu. Kadang banyak kadang sedikit. Tergantung dari kerjaan sampingan, usaha di luar jadi honorer. Di rumah saya membuka pengetikan, cetak foto, cetak undangan, service komputer/laptop, service printer, service kipas angin, service mesin cuci, service dispenser dan sebagainya. Ilmu service saya dapatkan dari membaca di internet dan menonton video di youtube.
Saya juga rajin sedekah diam-diam, seperti di kitabisa.com dan yang lainnya. Disana kita bisa sedekah tanpa diketahui orang banyak dengan cara Anonim (tanpa nama). Hanya diri kita sendiri dan Allah yang tahu. Seperti di hadist kalau tidak salah sedekah diam-diam itu lebih baik dari pada sedekah secara terang-terangan.
Sampai pada suatu hari, tepat kurang lebih 1 tahun usia pernikahan kami, orang di samping rumah mertua saya mau menjual rumahnya namun keburu duluan di beli orang lain.
Memang beberapa bulan yang lalu orang tua saya ingin mencari rumah untuk kami. Sebab orang tua saya paham tinggal satu rumah dengan mertua dan adik-adik itu sangat canggung. Perasaan itu juga yang saya rasakan.
Padahal saya tidak pernah mengucapkan atau meminta ingin rumah kepada orang tua. Saya hanya minta di setiap doa-doa saya kepada Allah.
Memang rumah tersebut kondisinya sangat memprihatinkan, tidak ada dapur, tidak ada kamar mandi, tidak ada wc, kamarnya cuma 1, dll. Di perbaikilah rumah tersebut oleh orang yang membelinya sampai siap pakai, hingga akhirnya 1 bulan di tempati tiba-tiba orang itu ingin menjual rumah yang sudah di perbaiki dan ditempatinya itu selama 1 bulan.
Mengetahui kabar tersebut segeralah orang tua saya menghubungi orang itu dan membayar uang muka, setelah orangnya selesai pindahan barang barulah di lunasi oleh orang tua saya. Tanpa minjam dan tanpa riba. Alhamdulillah.
Alhamdulillah 1 hajat saya sudah Allah kabulkan walaupun tidak sama persis dengan apa yang saya minta "besar dan mewah".
Doa saya minta rumah besar dan mewah sebenarnya berbarengan dengan minta punya mobil kepada Allah. Padahal saat saya berdoa itu tidak memiliki keahlian menyetir mobil.
Beberapa bulan setelah itu (dibelikan rumah) ayah saya ingin punya mobil untuk menunjang usaha / bisnis ayah saya. Namun di antara kami tidak ada yang bisa menyetir mobil.
"Kalau kamu mau belajar nyetir mobil nanti ayah yang bayar biaya kursusnya" kata ayah saya.
Singkat cerita kursuslah saya menyertir mobil selama 12 kali pertemuan. Lalu langsung membuat SIM di bulan berikutnya.
Setelah saya selesai kursus, mantaplah hati ayah saya untuk membeli mobil. Di belilah mobil Daihatsu Sigra 7 sit. Lagi awal-awal membawa mobil pastilah gugup, apalagi ini mobil orang tua. Takut lecet dan segala macam.
Sampai di situ saya sudah mengantongi keahlian menyetir membawa mobil tanpa di sangka-sangka. Allah mudahkan segala jalannya.
Entah nantinya datang dari siapa mobil saya di dalam doa. Sampai akhirnya menjadi nyata parkir di depan rumah.
Sampai artikel ini di tulis alhamdulillah saya masih di berikan Allah istiqamah mengamalkan shalawat sebanyak 1.000 kali dan amalan-amalan lainnya.
Semoga teman-teman yang membaca artikel ini termotivasi dan yakin dengan amalan shalawat. Itu saja pengalaman yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat. Jangan lupa tinggalkan komentar di kolom komen di bawah.